Nasional

PTDI Kaji Pesawat untuk Ambulans Udara, NC212 Jadi Salah Satu Kandidat

👁️ Dilihat: 333 kali • 📅 Dipublikasikan: 20-09-2026 08:40 WIB
⏱️ Menghitung durasi rilis...
PTDI Kaji Pesawat untuk Ambulans Udara, NC212 Jadi Salah Satu Kandidat
InfoRLX — Ekonomi & Teknologi. Layanan kesehatan di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat mulai mendapat alternatif baru. PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tengah mengkaji kemungkinan mengembangkan pesawat sebagai ambulans udara untuk mendukung proses evakuasi pasien.

VP Business Development & Marketing PTDI Heber M. F. Panjaitan mengungkapkan bahwa kajian tersebut masih berada pada tahap eksplorasi. Salah satu platform yang dinilai memiliki karakteristik sesuai untuk kebutuhan tersebut adalah NC212.

Menurut PTDI, konfigurasi pesawat NC212 memungkinkan proses keluar-masuk pasien dilakukan dengan lebih fleksibel. Karakter tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam melihat kemungkinan penggunaannya sebagai kendaraan evakuasi medis melalui udara.

Tidak hanya satu jenis pesawat

PTDI belum menetapkan satu platform sebagai pilihan final. Selain NC212, perusahaan juga membuka kemungkinan menggunakan N219 maupun RM200 untuk konsep ambulans udara.

Pengembangan tersebut juga berpotensi dilakukan melalui kolaborasi dengan lembaga lain. PTDI menyebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai salah satu pihak yang dapat dilibatkan dalam proses pengembangan.

Artinya, konsep ambulans udara ini masih berada dalam tahap kajian dan belum menjadi layanan operasional yang sudah berjalan.

Gagasan berawal dari kebutuhan daerah terpencil

Konsep ambulans udara sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto ketika memberikan keterangan pemerintah terkait RUU APBN 2027 pada Agustus 2026.

Dalam gagasan tersebut, pemerintah ingin menyediakan helikopter dan pesawat berukuran kecil yang dapat digunakan untuk menjangkau wilayah dengan akses kesehatan terbatas. Pesawat diharapkan mampu beroperasi dari lokasi yang tidak memiliki landasan penerbangan besar.

Presiden menyebut masih ada masyarakat yang membutuhkan waktu perjalanan hingga sekitar 7–9 jam untuk mencapai fasilitas kesehatan. Kondisi geografis tersebut menjadi salah satu alasan munculnya gagasan evakuasi medis melalui udara.

N219 dan N219A ikut masuk dalam pengembangan

Di sisi lain, BRIN telah menyiapkan pengembangan ekosistem N219 beserta varian amfibinya, N219A, untuk mendukung konsep ambulans udara dan logistik medis.

N219 mempunyai kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL) sehingga dirancang dapat beroperasi dari landasan yang relatif pendek. Sementara N219A dikembangkan sebagai varian yang dapat beroperasi di wilayah perairan.

Kemampuan tersebut dinilai relevan untuk kondisi geografis Indonesia yang memiliki banyak wilayah kepulauan dan daerah yang akses transportasi daratnya terbatas.

Tantangan bukan hanya soal pesawat

Jika konsep ambulans udara nantinya diterapkan, kesiapan pesawat bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.

Sistem tersebut juga membutuhkan fasilitas pendaratan, operator, tenaga medis, jalur rujukan rumah sakit, regulasi penerbangan, serta mekanisme pembiayaan dan operasional yang jelas.

Karena itu, kajian PTDI bersama kemungkinan kolaborasi dengan BRIN menjadi salah satu bagian dari proses panjang sebelum ambulans udara benar-benar dapat digunakan sebagai layanan evakuasi medis.

Bagi industri dirgantara nasional, pengembangan tersebut juga membuka kemungkinan pemanfaatan pesawat produksi dalam negeri untuk kebutuhan layanan publik, khususnya di wilayah yang menghadapi hambatan geografis.

InfoRLX — Menghadirkan kabar ekonomi dan teknologi dengan sudut pandang yang berbeda.

Disponsori oleh ROLEX878
← Kembali ke Beranda